Ironi, Saat Hari Jadi Lobar Berusia Ke 68 Tahun, Rakyat Kecil di Taman Narmada Protes Tarif 'Mencekik' dan Ancaman Penggusuran
Ratna Salah satu warga saat menyampaikan tuntutannya terkait tidak beresnya pengelolaan Taman Narmada
LOMBOK BARAT 17/6/2026– Di tengah gegap gempita persiapan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Lombok Barat yang ke-68, suasana kontras justru menyelimuti objek wisata bersejarah Taman Narmada. Bukannya merasakan kemeriahan hari jadi daerah, ratusan pedagang dan masyarakat lokal justru turun ke jalan menggelar aksi protes terhadap kebijakan pengelolaTaman Narmada.
Aksi massa ini menjadi "kado pahit" dalam momentum hari jadi kabupaten. Mereka menilai kebijakan manajemen PT. Tripat saat ini sangat tidak berpihak pada ekonomi rakyat kecil dan justru mengancam kelangsungan hidup warga yang sudah menggantungkan nasib di taman tersebut selama puluhan tahun dan turun temurun.
Ketegangan bermula saat PT. Tripat mengeluarkan surat perintah pengosongan lapak secara sepihak bagi para pedagang yang berada di area dalam taman. Masyarakat menilai langkah ini sebagai bentuk penggusuran halus, mengingat tidak adanya solusi relokasi yang layak dan jelas bagi mereka.
Tidak hanya soal lahan dagang, massa juga melayangkan protes keras terhadap kebijakan kenaikan tarif masuk area Air Awet Muda yang melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp100.000. Angka ini dinilai sangat fantastis dan "mencekik" wisatawan domestik serta mematikan jasa wisata lokal.
"Di usia Lombok Barat yang ke-68 ini, kami justru merasa terasing di tanah sendiri. Kebijakan ini mendadak, tidak ada dialog, dan tarif yang dipatok sangat tidak masuk akal. Ini bukan membangun pariwisata, tapi membunuh ekonomi lokal," ujar Supriyadi (Korlap Aliansi Masyarakat peresak)
Dalam orasinya Supriyadi juga menambahkan massa yang terdiri dari puluhan hingga ratusan orang ini menyampaikan empat poin tuntutan mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan PT. Tripat: beberapa poin diantaranya Menolak keras rencana pengosongan lapak pedagang di area utama Taman Narmada, Meminta transparansi dan audit terhadap kinerja PT. Tripat yang dinilai gagal mengelola situs sejarah tanpa mengorbankan masyarakat. Menuntut membuka kembali akses untuk pedagang yang ada disekitar Taman Narmada, ia berharap perwakilan DPRD lombok barat untuk turun mengecek problem masyarakat ini, jangan sampai berlarut-larut tutupnya
