Dari Kapuk Rando ke Tanah Suci: Kisah Joharlin, Buruh Pembuat Kasur yang Berangkat Haji Setelah 14 Tahun Menanti
Joharlin (pertama dari kiri) saat berada di Bir Ali asrama haji NTB
LOMBOK BARAT– Guratan bahagia tak mampu disembunyikan dari wajah Joharlin (59). Warga Desa Dasan Geria, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat ini akhirnya memetik buah manis dari pohon kesabaran yang ia tanam sejak 14 tahun silam. Hari ini, Jumat (1/5), Joharlin resmi diberangkatkan menuju Jeddah sebagai bagian dari jamaah calon haji Kloter 8.
Perjalanan Joharlin menuju Baitullah bukanlah jalan yang bertabur kemudahan. Ia adalah seorang pejuang mandiri yang sehari-harinya menggantungkan hidup sebagai buruh pembuat kasur dan bantal dari kapuk. Dengan telaten, ia berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya, mengumpulkan rupiah demi rupiah demi memenuhi rukun Islam kelima.
Mendaftar sejak tahun 2012, penantian panjang selama hampir 14 tahun itu ia lalui dengan ketekunan luar biasa. Saat ditemui awak media sebelum keberangkatan sekitar pukul 13.00 WITA, wajahnya tampak berseri-seri, mencerminkan rasa syukur yang mendalam.
"Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. Terima kasih juga kepada kementerian terkait yang sudah memfasilitasi keberangkatan kami dengan sangat luar biasa, maksimal, dan memuaskan," ungkap Joharlin haru, mewakili perasaan rekan-rekannya di Kloter 8.
Joharlin tidak sendirian. Ia tergabung dalam rombongan Kloter 8 yang mengangkut sebanyak 388 jamaah reguler. Berdasarkan data yang dihimpun, rincian jamaah tersebut terdiri dari Laki-laki199 orang, Perempuan189 orang, Petugas Pendamping 5 orang.
Dalam kloter ini, tercatat nama Nurul Hikmah sebagai jamaah tertua. Di usianya yang telah menginjak 91 tahun, warga asal Banyurip, Gerung ini tetap semangat menunaikan ibadah haji. Sementara itu, predikat jamaah termuda disandang oleh Rizkia Rahmawati Putri, gadis berusia 24 tahun asal Banyumulek, Kediri.
Keberangkatan Kloter 8 ini menjadi simbol bahwa niat suci dan kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Sosok Joharlin adalah bukti nyata bahwa doa yang dilangitkan dari sela-sela debu kapuk dan jahitan kasur, akhirnya dijawab indah oleh Sang Khalik.
